Senin, 26 Oktober 2015

DOA INDULGENSI

DOA INDULGENSI

Mulai 1 November doakan anggota keluarga yang sudah wafat supaya mendapat indulgensi penuh.

Harus berdoa mulai hari (1 Nov) sampai tgl 8 Nov (Kasih tau keluarga lain.........) jangki  lowong.

Doanya:
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin

Bapa yang maharahim, percaya akan kasihMu yang tanpa batas, bersama seluruh GerejaMu, pada hari ini kami mohon dengan sangat lepaskanlah ( nama-nama yang didoakan......) dari segala hukuman atas dosa-dosa mereka. Perkenankan mereka semua memasuki hidup abadi yang terang dan bahagia di surga mulia, dan perkenankan mereka memandang kemuliaan cahaya wajahMu. Ini semua kami mohon di dalam Kristus PutraMu  dan pengantara kami, kini dan sepanjang masa, Amin.

Aku Percaya...................(1X)
Bapa Kami......................(1X)

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin



DOA INDULGENSI
Mulai 1 Nopember doakan anggota keluarga yang sudah wafat supaya mendapat indulgensi penuh.

Harus berdoa mulai hari (tgl 1 Nov) sampai tgl 8 Nov. (Kasih tau keluarga lain).....Jangan lowong

Doanya :
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin.

Bapa yang maharahim, percaya akan kasihMu yang tanpa batas, bersama seluruh GerejaMu, pada hari ini kami mohon dengan sangat lepaskanlah ( nama-nama yang didoakan.........) dari segala hukuman atas dosa-dosa mereka. Perkenankan mereka semua memasuki hidup abadi yang terang dan bahagia di Surga mulia, dan perkenankan mereka  memandang kemuliaan cahaya wajahMu. Ini semua kami mohon di dalam Kristus PutraMu dan pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Aku percaya...........................(1x)
Bapa Kami.............................(1x)

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin




Senin, 19 Oktober 2015

Jerat - Harvey Maliholo


Buku Statistik Gereja menyebut jumlah umat katolik meningkat

Buku Statistik Gereja menyebut jumlah umat Katolik meningkat

Paus Fransiskus di Manila
Menurut Annuarium Pontificium (Buku Tahunan Kepausan) 2015 dan Annuarium Statisticum Ecclesiae (Buku Tahunan Statistik Gereja) 2013 yang dikeluarkan di Vatikan tanggal 16 April 2015 pagi, masing-masing memperlihatkan beberapa aspek baru dalam kehidupan Gereja sejak Februari 2014 hingga Februari 2015, dan perubahan yang terjadi tahun 2013.
Statistik yang mengacu tahun 2013, menunjukkan dinamika Gereja Katolik di 2989 yuridiksi gerejawi di dunia. Dapat terlihat dalam periode ini satu keuskupan dan dua eparki (keuskupan untuk Katolik Timur) ditingkatkan menjadi tahta metropolitan. Juga didirikan tiga tahta episkopal baru, tiga eparki dan satu eksarkat episkopal agung (semuanya untuk Katolik Timur), serta satu prelatur teritorial ditingkatkan menjadi keuskupan, dan satu prefektur apostolik menjadi vikariat apostolik.
Sejak tahun 2005, jumlah umat Katolik di seluruh dunia meningkat dari 1.115.000.000 menjadi 1.254.000.000, meningkat 139 juta umat. Dalam dua tahun terakhir, umat Katolik yang dibaptis meningkat dari 17,3% menjadi 17,7%.
Ada peningkatan 34% umat Katolik di Afrika, yang mengalami pertumbuhan penduduk 1,9% antara tahun 2005 dan 2013. Peningkatan umat Katolik di Asia (3,2% di tahun 2013, dibandingkan dengan 2,9% di tahun 2005) lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk di Asia. Di Amerika, umat Katolik terus mewakili 63% dari pertumbuhan penduduk. Di Eropa, di mana penduduknya stagnan, terjadi sedikit peningkatan jumlah umat yang dibaptis dalam beberapa tahun terakhir. Persentase Katolik yang dibaptis di Oseania tetap stabil meskipun penduduknya menurun.
Sejak 2012 hingga 2013, jumlah uskup bertambah 40 dari 5.133 menjadi 5.173. Di Amerika Utara dan Oseania terjadi pengurangan dari 6 menjadi 5, berbeda dengan pertambahan 23 uskup di bagian lain benua Amerika itu, 5 di Afrika, 14 di Asia dan 9 di Eropa.
Jumlah imam, diosesan dan religius, meningkat dari 414.313 di tahun 2012 menjadi 415.348 di tahun 2013.
Calon imam, diosesan dan religius – turun dari 120.616 di tahun 2011 menjadi 118.251 di tahun 2013 (-2%). Peningkatan 1,5% tercatat terjadi di Afrika, dibandingkan dengan penurunan 0,5% di Asia, 3,6% di Eropa dan 5,2% di Amerika Utara.
Jumlah diakon permanen terus tumbuh subur, melewati 33.391 di tahun 2005 menjadi 43.000 di tahun 2013. Mereka secara khusus berada di Amerika Utara dan Eropa (96,7%), dan sisa 2,4% terbagi di Afrika, Asia dan Oseania.
Jumlah kaum religius berkaul selain imam bertumbuh sebesar 1%, dari 54.708 di tahun 2005 menjadi 55.000 di tahun 2013. Peningkatan jumlah itu terjadi di Afrika sebesar 6% dan Asia sebesar 30%, dan penurunan di Amerika (2,8%), Eropa (10,9%) dan Oseania (2%). Penurunan signifikan kaum religius wanita menguat: saat ini sebanyak 693.575 dibandingkan dengan 760.529 di tahun 2005: -18,3% di Eropa, -17,1% di Oseania, dan -15,5 di Amerika. Namun, tercatat peningkatan 18% di Afrika dan 10% di Asia.(pcp berdasarkan Vatikan Information Service)
pope-manila-mass
Foto-foto menunjukkan peristiwa kunjungan Paus Fransiskus ke Filipina


INSPIRATION :


KESAKSIAN HIDUP: Indah Pada Waktunya


Kami pasangan suami istri Octavianus Indra Kurniawan dan Theresia Nurcahyani. Kami menikah pada 24 Agustus 2003 saat usia kami 27 tahun. Kami telah memiliki seorang putra yang lahir pada 3Agustus 2006. Kami dari paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung, Jakarta Timur.

Kelihatannya sederhana, menikah lalu anak. Namun untuk memperoleh keturunan bagi kami tidaklah sesederhana itu. Walaupun mungkin bagi sebagian orang 3 tahun bukanlah waktu yang panjang, tapi bagi kami rasanya lama sekali.

Beberapa bulan sebelum kami menikah, saya menjalani laparaskopi karena terdapat kista pada kedua ovarium saya. Dokter kandungan tersebut mengatakan bila tidak dilakukan tindakan tersebut akan mengganggu dan mempersulit kehamilan. Karena memang saya sering merasa nyeri perut terutama pada saat datang bulan.

Setelah menikah, saya tak kunjung hamil. Lalu saya konsultasi ke dokter kandungan, oleh dokter tersebut, dilakukan beberapa pemeriksaan antara lain Ultrasonografi (USG), pemeriksaan hormon reproduksi juga radiologi Histeosalpingografi (HSG). Semua hasilnya baik dan tidak terdapat kelainan. Dokter menyarankan suami saya untuk konsultasi ke dokter andrologi yang khusus menangani masalah organ reproduksi pria.

Ternyata pada testis suami saya terdapat varises atau varikokel. Memang sebelumnya suami saya sering mengeluh  nyeri perut bagian bawah dan ternyata hal itu disebabkan adanya varises pada testisnya. Karena pembuluh darah yang melebar tersebut mengakibatkan jumlah dan mutu sperma yang dihasilkan menjadi sedikit dan tidak sempurna sehingga menyababkan kami sulit memperoleh keturunan. Dokter menyarankan agar segera dilakukan tindakan operasi untuk mengatasi varikokel tersebut karena bila tidak segera dioperasi  maka kemungkinan kami untuk mempunyai anak akan sangat sulit sekali. Sedangkan bila hanya dengan terapi obat-obatan hanya akan membuang waktu dan uang karena akar permasalahannya tidak diatasi lebih dahulu.

Suami saya sangat tertekan sekali menghadapi kenyataan itu karena ternyata penyebab kami sulit memiliki anak adalah dirinya. Saya juga merasakan hal yang sama tapi mungkin saya lebih siap mendengar pernyataan dokter itu. Mengapa demikian? Karena sebelum kami menikah, kami melakukan beberapa macam pemeriksaan laboraturium. Profesi saya sebagai analis laboraturium memungkinkan saya untuk memeriksa sendiri sperma suami saya. Saya melihat di bawah mikroskop, sel sperma yang ada sangat jarang sekali, kalaupun ada hanya beberapa sel saja, itu pun sel-sel yang abnormal. Pergerakannya lambat bahkan banyak yang tidak bergerak. Saya tahu bahwa dengan kondisi sperma yang demikian sangat kecil kemungkinan untuk terjadi prosas pembuahan. Tapi hal itu memang saya rahasiakan dari dirinya. Saya terpaksa berdusta padanya ketika dia menanyakan hasil laboraturium pemeriksaan spermanya. Saya katakan hasilnya bagus, normal. Padahal dalam hati saya cemas sekali memikirkan masa depan kami bila menikah nanti dan tidak mempunyai anak. Tapi saya sangat mencintainya dan tidak ingin karena masalah ini kami batal menikah. Prinsip saya, menikah tidak semata-mata hanya ingin memiliki anak.

Setelah kami konsultasi dengan dokter andrologi, akhirnya suami saya tahu kondisi dirinya, suami saya juga bertanya apakah saya menyesal menikah dengannya. Saya katakan tidak, karena sebelum kami menikah saya sudah tahu kemungkinan apa yang akan saya hadapi. Lalu saya ceritakan semua padanya tentang pemeriksaan spermanya waktu itu.

Kemudian suami saya menjalani operasi varikokel pada awal Mei 2004. Setelah operasi dilakukan terapi dengan obat-obatan selama 3 bulan. Setelah 3 bulan berlalu dilakukan pemeriksaan sperma kembali, ternyata hasilnya sama sekali tidak ada perubahan bahkan bisa dikatakan makin menurun dari sebelum operasi. Shock kami mendengarnya. Karena kami sangat berharap sekali dengan  operasi semua beres, ternyata tidak.  Dari hasil USG, ternyata masih ada varikokel yang lainnya yang harus dilakukan operasi kembali. Jelas hal ini membuat kami  stress. Bagaimana bila operasi kedua  gagal lagi?

Kami pun beberapa kali konsultasi kepada Romo Rochadi Widargo, PR pastor yang memberkati pernikahan kami. Kami didoakan dan beliau mengatakan "itu kan kata dokter tapi kata Tuhan kan lain." Kata-katanya sederhana namun membuat kami menjadi tenang karena kami jadi memiliki harapan kembali.

Kami pun beralih kepada pengobatan alternatif, mulai dari orang pintar, tabib, dukun, pijat refleksi, pijat tradisional, dan paranormal semua kami datangi untuk mengatasi masalah kami, namun semua tidak membuahkan hasil. Sampai kami lelah pergi ke sana–ke mari. Entah sudah berapa banyak uang yang kami keluarkan dan juga waktu yang tersita untuk menjalani semuanya itu.

Awal tahun 2005 kami berhenti total dari pengobatan semuanya  selain kami merasa jenuh dan lelah, kami juga sedang proses membangun rumah sehingga dana yang ada terfokus untuk membangun rumah.

Pada pertengahan Mei 2005, seorang teman saya yang juga bekerja di rumah sakit di mana saya bekerja mengajak kami pergi ke Lembah Karmel, Cikanyere untuk misa Pentakosta. Karena kami belum pernah ke Lembah Karmel maka dengan senang hati kami ikut. Awal bulan juli 2005  dia juga mengajak kami Retret Awal. Sejak pertama hadir di Lembah Karmel pada bulan Mei 2005, Kami sudah jatuh hati pada tempat itu sehingga tanpa pikir panjang kami mengiyakan ajakannya.

Ketika mengikuti retret tersebut ada waktu khusus untuk sharing dengan beberapa frater dan suster di sana. Kami juga menggunakan kesempatan itu untuk sharing masalah kami. Kami mengungkapkan semua persoalan yang kami hadapi kepada frater Giovanni seorang frater yang berasal dari negeri tetangga, Malaysia. Betapa kami jadi minder dan rendah diri karena belum memiliki anak. Karena kapan pun dan di mana pun semua orang yang kami jumpai tak pernah berhenti menanyakan kapan kami punya momongan. Hal ini membuat kami jadi menarik diri dari pergaulan karena kami takut akan pertanyaan orang–orang tentang anak. Apalagi bila ada teman atau kerabat yang hamil atau melahirkan rasanya saya jadi sakit hati sekali. Bahkan saya jadi benci bila melihat orang hamil. Karena saya jadi iri kepada mereka. Kenapa bukan saya? Dalam berdoa pun  saya sempat protes kepada Tuhan. Bunda Maria saja yang tidak bersuami bisa hamil, kenapa saya yang bersuami tidak bisa hamil? Suami saya pun sempat marah kepada Tuhan. Kenapa Tuhan tidak adil? Banyak orang bisa hamil padahal belum tentu orang tersebut benar-benar menginginkan anak. Bahkan banyak bayi-bayi setelah dilahirkan dibuang atau digugurkan saat masih dalam kandungan.

Semua yang dikatakannya sangat mengesankan buat kami berdua dan membuat kami mempunyai harapan baru. Kata-katanya lembut merasuk ke dalam hati kami. Memberi pencerahan buat kami.Dan selain itu mengubah cara pandang kami tentang apa yang selama ini menjadi beban buat kami. Jika dulu dalam doa kami memohon untuk diberikan keturunan, yang seakan memaksa Tuhan mengabulkan doa kami. Tetapi setelah kami retret, doa kami berubah menjadi doa yang lebih pasrah pada kehendak Tuhan dan memohon apa pun yang terjadi pada kami, kami dapat menerima dengan hati yang ikhlas. Dan membuat kami tidak takut lagi untuk membuka diri.

Bulan Desember 2005, kami berdua mengikuti retret penyembuhan Luka Batin. Kami sungguh dapat memperoleh penyembuhan dari segala luka-luka batin kami. Karena dengan mengampuni kami menjadi lebih damai. Kami jadi dapat menerima  orang lain yang menyakiti kami dengan hati terbuka.

Beberapa hari setelah retret tersebut, di paroki kami ada pengakuan dosa untuk menyambut Natal. Dan saya mengaku dosa kepada Romo Rochadi, PR, yang kebetulan menjadi pastor tamu untuk membantu pengakuan dosa karena banyaknya umat yang mengaku dosa sedangkan di paroki kami hanya ada dua pastor. Sebelum mengaku dosa, beliau sempat bertanya pada saya, apakah saya hamil? Saya tidak menanggapi serius karena saya pikir beliau hanya berbasa-basi. Tetapi saya jadi memikirkan kata-katanya. Keesokan harinya saya memeriksakan urine saya di laboratorium tempat saya bekerja. Saya tidak berani melihat test pack-nya. Saya takut akan seperti biasanya. Karena seringkali jika perkiraan terlambat datang bulan, saya iseng-iseng periksa urin dan berkali pula hasilnya selalu negatif.

Sungguh di luar dugaan, ternyata hasilnya positif! Saya sangat tidak percaya. Sampai rasanya jantung ini melompat keluar karena kegirangan. Karena memang menurut perhitungan belum bisa dikatakan terlambat datang bulan. Saya sampai tidak tahu apa yang harus saya lakukan, karena saya memeriksa sendiri urine saya dan saya sendirian melihat hasilnya. Bahkan saya tidak berani cerita pada suami saya. Saya khawatir bila ternyata hasil tersebut adalah positif palsu.

Namun akhirnya saya cerita kepada suami saya tetapi saya berpesan supaya jangan terlalu gembira dulu sebelum ada pernyataan dari dokter kandungan. Besoknya saya ke dokter kandungan sendirian, saya tidak mengajak suami saya karena khawatir hasilnya mengecewakannya. Ternyata dokter kandungan yang memeriksa saya menyatakan saya sungguh-sungguh hamil.

Saya menjalani masa kehamilan tersebut dengan penuh sukacita. Walau banyak kendala saya hadapi. Setiap bulan saya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Awal kehamilan ketika menginjak usia dua bulan saya mengalami flek dan diberi obat penguat kandungan.

Dokter kandungan sudah memberi informasi kalau letak plasentanya menutupi jalan lahir sehingga kemungkinan bila sampai trismester ketiga tidak ada perubahan letak plasentanya maka saya harus menjalani operasi sesar. Dan dengan adanya plasenta previa ini rentan terjadi pendarahan. Dan dikhawatirkan terjadi kelahiran prematur. Usia kehamilan 5 bulan, saya mengalami flek lagi dan harus bedrest selama seminggu di rumah.

Beberapa hari setelah mengadakan acara tujuh bulanan, saya terserempet motor. Puji Tuhan tidak terjadi apa-apa. Menginjak usia kehamilan 8 bulan saat pagi buta ketika saya buang air kecil ternyata bukan hanya urine yang keluar tetapi darah ikut mengalir keluar, saya panik. Dan kami cepat-cepat pergi ke rumah sakit. Saya harus bedrest selama satu minggu di rumah sakit.

Setelah pulang dari rumah sakit beberapa hari kemudian, suatu sore ketika saya bangun tidur ternyata saya mengalami pendarahan lagi. Karena sebelumnya sudah mengalami hal ini, saya tidak terlalu panik. Kami lalu pergi ke rumah sakit. Kali ini saya harus bedrest total sampai menjelang kelahiran. Diinfus untuk menahan agar tidak terjadi kontraksi  karena khawatir terjadi kelahiran prematur. Tetapi saya juga disuntik obat untuk mematangkan paru-paru bayi dalam kandungan, berjaga-jaga seandainya bayi saya harus dilahirkan sebelum waktunya. Setiap hari harus di-kardiotokografi (CTG) untuk merekam kontraksi dan detak jantung bayi. Perawat setiap 3 kali sehari memeriksa detak jantung bayi saya dalam kandungan.

Menurut perhitungan, saya melahirkan tanggal 23 Agustus 2006, tetapi karena kondisi saya demikian akhirnya diputuskan saya melahirkan tanggal 3 Agustus 2006 melalui operasi sesar karena plasenta previa totalis. Semua berjalan lancar, walau sayabedrest di rumah sakit hampir sebulan karena kontraksi dan pendarahan.

Kami memberi nama putra kami Michael Samuel Giovani Putra Kurniawan. Michael adalah salah satu dari malaikat agung, karena putera kami adalah malaikat buat kami berdua. Dan nama Samuel yang artinya anak yang diminta dari Tuhan. Saya pernah berjanji dalam hati  jika saya mempunyai anak akan diberi nama Samuel. Kami sengaja memakai nama Giovani untuk mengingatkan kami pada frater Giovani yang telah memberikan pencerahan buat kami dan juga sebagai ucapan terima kasih kami padanya. Walau sampai saat ini kami belum meminta ijinnya dan belum menceritakan anugerah yang diberikan Tuhan buat kami. Karena ketika kami retret bulan Desember 2005 beliau sudah tidak berada di Lembah Karmel, Cikanyere tetapi di Tumpang Malang.

Tulisan ini saya buat sebagai ucapan terima kasih kami kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang tidak pernah meninggalkan kami dalam kesulitan apa pun. Dan juga ucapan terima kasih kami kepada Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm, para suster Putri Karmel dan para frater CSE yang telah membantu kami dengan doa-doanya.


Kesaksian ditulis oleh  Octavianus Indra Kurniawan dan Theresia Nurcahyani

Sumber: http://www.carmelia.net


iatirahat di Dago Pakar


Di Bukit Tinggi

Minggu, 18 Oktober 2015

KOPI - sebuah ilustrasi

"KOPI"
Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh tentang banyak permasalahan dalam kehidupannya.
Namun betapa kagetnya, karena ternyata ibunya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya.Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur dan anaknya terus bercerita sambil mengikutinya.
Sang ibu lalu memasak air sampai airnya mendidih, lalu sang ibu menuangkan "Air Panas Mendidih" itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan.
Di gelas pertama ia masukkan WORTEL, di gelas kedua ia masukkan TELUR, dan di gelas ketiga ia masukkan KOPI.
Setelah menunggu  beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya:
  • Wortel yang KERAS menjadi LUNAK
  • Telur yang mudah PECAH menjadi KERAS, dan
  • Kopi meghasilkan aroma yang HARUM 
Lalu sang ibu menjelaskan :
".Nak.........MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH. Namun sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi Lembek seperti Wortel, mengeras seperti Telur, atau Harum seperti KOPI."
Wortel dan telur bukan mempengaruhi air, tetapi malah berubah karena air mendidih itu, sementara KOPI malah mengubah AIR, membuatnya menjadi HARUM.

"Setiap Masalah, selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?

Ada 3 reaksi orang saat masalah datang :

  • Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh ( seperti wortel tadi) dan mengasihani diri sendiri
  • Ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Tuhannya
  • Ada juga yang justru semakin harum (seperti KOPI), menjadi semakin kuat dan percaya kepadaNya

Ada kalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya, Apa tujuannya? Agar kita percaya dan setia.
Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Tuhan selesaikan.......

" Selamat manikmati secangkir KOPI di siang hari ini........."

Dealova - by Onche