" Dari Otak Turun ke Hati "
Cinta di dalam dunia riil membutuhkan proses, bahkan Russell mengatakan cinta paling tidak harus memiliki stabilitas. Kata stabilitas tidak selalu kongruen dengan konsepsi tentang cinta, apalagi cinta selalu diasosiasikan dengan gairah dan petualangan. Tetapi banyak filosof memilih cinta yang stabil, dengan kaitannya dalam menghindari kesengsaraan. Kita ambil contoh Erich Fromm, ia mengkritisir terma ‘jatuh cinta’, mengapa manusia harus jatuh cinta? Ia menegaskan kata ‘jatuh’ atau ‘falling’, haruskah manusia jatuh? Seolah-olah pengalaman mencintai harus mengalami insiden yang carut marut dimana kita selalu terperosok? “Love is an activity, not a passive affect; it is a ‘standing in’, not a ‘falling for’.”[8] Erich Fromm melakukan analisa psikologis tentang cinta, bahwa cinta yang seringkali menyebabkan kesengsaraan bagi manusia adalah cinta yang berakar pada mitos. Mitos apa? Kita ambil contoh mitos yang digunakan oleh Plato dalam Symposium, Plato menjelaskan bagaimana manusia ketika zaman awal penciptaanya sesungguhnya adalah sepasang manusia yang menjadi satu. Terpisahnya dengan pasangan jiwa itulah yang menyebabkan kita hidup dalam kegelisahan. Atas dasar mitos inilah maka manusia selalu meyakini bahwa untuk melengkapi kehidupannya ia harus mencari pasangan yang sudah ditakdirkan bersamanya. Sungguh berat misi untuk mencintai semacam ini, Fromm akan mendebat, “Another form of Pseudo Love is what we may be called ‘sentimental love’. Its essence lies in the fact that love is experienced only in phantasy and not in the here and now relationship to another person who is real.”[9]
Cinta Pseudo, Fromm menjabarkan, adalah suatu kondisi dimana manusia hidup dalam atmosfir cinta dalam fantasi. Kita mencari sentimentalitas dan drama dalam cinta, seperti apa yang telah dibentuk dan diajarkan kepada kita secara kultural, sementara kita melalaikan apa yang terjadi secara kekinian di dalam hidup kita. Manusia ingin cinta yang fantastis, disinilah letak problemnya, bagi Fromm cinta adalah relasi yang lahir dari emosi manusia yang menginginkan keintiman. Manusia sering memfantasikan bentuk dan objek cinta mereka, fantasi terhadap forma-forma inilah yang melalaikan pesan kesederhanaan dari cinta. Cinta adalah tentang pengalaman, kompatibilitas dan relasi kepercayaan. Fromm akan menolak segala bentuk romantisme dan mistifikasi tentang cinta.
inilah perbedaan cinta antara Plato dan Erich,
BalasHapuskalau plato bilang karena salah satu di ambil dari tulang rusuk satunya kira2 demikian , makanya manusia selalu cari pasangannya , jadi kalo manusia yg ga menikah barangkali pasangannya sdh meninggal duluan ya sblm ketemu , atau pasangannya di lahirkan di benua lain yg sulit bs ketemu, atau pasangannya belum dilahirkan.
haah........koq sama ya pikiran kita, dari dulu aku sudah berpikir seperti itu ..he...he.....
BalasHapusKlo pasangan yg sebenarnya sdh kawin sama yg lain gmn ya ? trus gmn dengan biara-biara yg ga nikah mungkin kalo suatu saat ketemu pasangannya dia akan meninggalkan biaranya ya . Mungkin dalam keheningan kita sering berkomunikasi dng pasangan yg sesungguhnya , cuma sering tdk di sadari ,( batin to batin ).
BalasHapusmungkin itulah yang terjadi pada cerita2 yg sdh kita baca tentang perkawinan di usia lanjut karena terhalang waktu atau perkawinan yg sdh terlanjur terjadi sebelumnya. kalo memang jodoh nggak kemana bisa aja dipersatukan di masa tuanya........why not?
BalasHapusAlien kalo sudah tua ya akan pulang ke planetnya , ketemu Alien lain yg pinter yg super , Alien sama manusia apa mau ? wong manusianya bodoh.
BalasHapusmanusia itu pintar2, siapa bilang manusia itu bodoh...........wah sesat!
BalasHapus